Thursday, December 12, 2013

Tentang Kekerasan terhadap Perempuan

By gayatri wedotami, 11 Desember 2013
Jangan mencuri, jangan membunuh, jangan berzina,
Jangan mengambil hak milik orang lain,
Bukankah ini sederhana? Bukankah dasasila sederhana;
Semakin sederhana hukumnya, semakin sedikit kejahatan
Semakin rumit hukumnya, semakin banyak kejahatan,
Demikianlah zaman sekarang, kemanusiaan dan kualitas insan
Telah jauh merosot dilihat dari kompleksnya hukum,
undang-undang dan peraturan yang mereka buat sendiri,
bahkan hukuman untuk melindungi korban,
malah menjerat korbannya sendiri sebagai pelaku kejahatan.
Inilah zaman gila!
Saya menulis catatan ini dengan bingkai pemikiran dasar eksistensialisme Islam – bukan eksistensialisme versi Barat-nya Sartre tentu saja. Setelah menonton sebuah film pada diskusi acara Komnas Perempuan beberapa waktu lalu bertajuk Lingkaran Kekerasan,  saya ingin menarik sebuah kesimpulan penting dalam kerangka bingkai tersebut tentu saja.Perwakilan dari Komnas Perempuan menyebutkan, apapun alasannya poligami merupakan akar dari kekerasan terhadap perempuan – dalam bahasa saya, menurutnya, sebab ia tak lain merupakan sarana untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap perempuan.Saya tidak menampik ekses-ekses yang timbul dari perkawinan poligami yang dijalankan pada hari ini. Saya memang sangat keberatan dengan mayoritas praktek yang saya lihat, saya dengar dan saya temukan di mana-mana pada hari ini. Saya telah bertemu dengan banyak sekali orang-orang yang saya kenal akrab yang menjadi korbannya entah sebagai istri atau anaknya. Saya sebutkan mayoritas. Ini penting untuk dicatat. Tetapi, saya tidak berani menduga-duga bagaimana keadaannya pada masa lalu. Tidak cukup bukti untuk meyakinkan saya bahwa pada masa lalu keadaannya sama saja dengan sekarang. Di belahan dunia Timur, seperti Indonesia, poligami baru digugat pada era tahun 1950an, paling tidak, begitu seingat saya. Empat atau lima generasi sebelum saya, saya tidak dapat menyangkal, adalah sangat mungkin nenek dan kakek moyang saya sendiri adalah pelaku poligami. Salah satu kakek kandung saya adalah pelaku poligami, dan saya tidak benar-benar tahu apakah yang dijalaninya sebuah perkawinan poligami yang ideal atau bahagia bagi keseluruh pihak yang terlibat di dalamnya.Maka, patut diingat pula, kekerasan terhadap perempuan berlaku juga dalam bentuk perkawinan monogami. Acap kali mengambil bentuknya yang paling parah. Dan, tentu saja terdapat kekerasan secara fisik maupun verbal. Tetapi, kita harus dapat membedakan kekerasan secara verbal dengan pertengkaran-pertengkaran yang wajar di antara suami dan istri. Seperti halnya – yang juga dibahas dalam diskusi tersebut – orang-orang rupanya masih tidak dapat membedakan sebuah kekerasan atau pembelaan diri para perempuan yang telah menerima perlakuan kekerasan dari suaminya berulang-ulang sampai akhirnya dalam satu puncak ketidaktahanannya atau pertahanannya yang terakhir, dia yang malah menyakiti atau membunuh suaminya, dan masuk penjara atas dasar undang-undang KDRT. Juga penting dicatat, bahwa dalam kehidupan yang real, hubungan cinta kasih dan kasih sayang bukanlah semata-mata kelemahlembutan belaka, sikap yang keras dan teguh juga dipraktekkan dan diaplikasikan dengan masing-masing pada kadarnya.Dalam diskusi tersebut, seorang pastor juga mengutip kata-kata Paus Fransiskus dalam bahasanya sendiri, bahwa manusia pada zaman sekarang menikah demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan emosional dan sosial belaka. Inilah yang membedakan pernikahan pada masa sekarang dengan masa lalu, dan bagaimana terjadi begitu banyak kebobrokan, kerusakan atau kehancuran di dalamnya. Kita tentu tidak menggebyah uyah semua perkawinan pada masa lalu adalah bentuk perkawinan yang ideal, sebaliknya juga pada masa kini adalah jauh dari ideal. Tentunya tidak demikian, tetapi sudut pandang bahwa kerusakan semakin membesar dan berkembang pada masa sekarang, di semua aspek dan pada semua hal, adalah suatu keniscayaan zaman, yang telah dinubuatkan sejak dulu, dan dinyatakan dalam banyak tradisi keyakinan.Bahkan, tentu perlu diingat. Kekerasan terhadap perempuan, pada konteks masa dahulu dan pada masa sekarang, jelas-jelas dipandang berbeda oleh masing-masing tradisi yang pernah ada pada waktu tertentu itu. Tetapi, secara universal kekerasan terhadap perempuan, dalam bentuknya yang umum, tidak dapat diterima oleh tradisi mana pun, sejak dahulu hingga sekarang.  Itulah sebabnya orang-orang bijaksana, nabi-nabi, guru-guru agung, atau kesatria-kesatria gagah namun lembut hati yang dikenal sebagai pahlawan-pahlawan pembebas kaum tertindas selalu hadir pada setiap zaman. Socrates, Plato, maupun Aristoteles boleh jadi memandang perempuan sebagai manusia kelas kedua, sesuai konteks zaman mereka, tetapi mereka tidak mungkin menerima kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk-bentuk yang secara umum biadab – mereka tidak akan membiarkan istri mereka, anak gadis mereka, atau ibu mereka disiksa, diperkosa atau dibunuh dengan sadis.Contoh lain adalah perkosaan. Pada zaman Abad Pertengahan, di Eropa secara umum, perkosaan bukan dianggap sebagai kekerasan terhadap perempuan sebagai individu, melainkan kekerasan terhadap perempuan sebagai milik seseorang atau di bawah perlindungan atau perwalian seseorang. Oleh karena itu, hal itu dijatuhi hukuman yang sangat keras. Dan, juga karena itu, setiap perempuan pada masa itu, sebagai anak gadis, sebagai istri, maupun janda, merasa perlu hidup di bawah perlindungan, perwalian atau dalam hak kepemilikan seorang laki-laki dan atau komunitas tertentu (misalnya biara-biara). Konsep hak individu baru muncul belakangan.Hal-hal tersebut menunjukkan suatu eksistensi yang satu, tentang apa yang disebut sebagai kekerasan, tetapi dengan manifestasi yang sangat luas dan telah menjadi rumit dan kompleks. Maka, dengan begitu berkembang pula cara memandangnya, meskipun wujudnya sendiri adalah sama. Yakni, kekerasan. Ada yang kemudian disebut sebagai kekerasan fisik, di dalamnya termasuk pula kekerasan seksual, dan kemudian kekerasan verbal, di dalamnya termasuk pula indoktrinasi mengenai “kekerasan itu dibenarkan (untuk tujuan apapun sesuai kehendak atau keyakinan si pelaku).”Sekarang kita telah melihat bahwa baik dalam bentuk monogami maupun poligami – secara khusus tentu yang dimaksud adalah poligini, tetapi barangkali juga dalam bentuk poliandri – potensi terjadi kekerasan terhadap perempuan selalu ada, selalu mengintai dan pada akhirnya memang ditemukan dalam banyak kasus yang tidak selalu sederhana.Kemudian kita akan melihat bagaimana solusi-solusi yang pernah dilakukan, dan atau pernah ditawarkan juga diupayakan.Dalam tradisi Islam, perceraian dibenarkan. Tentu saja, dalam konteks ini, perkataan Allah memurkai perceraian tidak dapat digunakan. Sepengetahuan saya, beberapa ulama bahkan para guru besar Sufi menekankan hal-hal apa saja sebuah perceraian menjadi wajib, menjadi makruh, menjadi mubah, dan menjadi haram. Perceraian menjadi wajib atau dianjurkan apabila perkawinan itu diteruskan antara lain dapat membahayakan serta mengancam jiwa dan nyawa salah satu dari keduanya. Begitu pula sebaliknya, perceraian menjadi haram jika dapat terjadi yang demikian. Namun, acapkali perkataan Allah memurkai perceraian menjadi sebuah senjata untuk ditodongkan kepada para perempuan tetap berada dalam situasi dan keadaannya yang mengalami kekerasan, dan bahwa penderitaan yang ia alami dan pengorbanan yang ia lakukan dapat membawa pahala baginya.Sementara itu dalam tradisi Katholik, persoalan ini menjadi lebih rumit. Perceraian, tidak dikenal dalam Gereja Katholik, melainkan pembatalan perkawinan. Dan, proses untuk terjadinya pembatalan dapat berlangsung cukup lama karena tradisi Katholik memandang bahwa apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak dapat diceraikan oleh manusia; dan saat keduanya bersatu telah terjadi campur tangan Allah untuk menggenapi janji keselamatan Ilahi, sesuatu yang teramat sakral karena ia merupakan bentuk “miniatur Gereja”.Sebenarnya dalam tradisi Kristiani lain, hal-hal ini juga sama rumitnya. Namun, tradisi Protestan tertentu atau pada umumnya cukup mengakomodasi perceraian dengan lebih mudah.Sahabat saya seorang calon pendeta (Protestan) yang pernah mengalami kekerasan fisik dari suami pertamanya, berkata:
Refleksi film “Lingkaran Kekerasan”: Salib sering dimaknai sebagai simbol penderitaan namun jarang dimaknai sebagai simbol kemenangan atau pembebasan. Akibatnya, banyak orang yang rela bertahan dalam penderitaan karena menganggap penderitaan adalah bagian dari memikul salib Kristus, termasuk para kebanyakan istri Kristen korban KDRT.
Penderitaan adalah konsekuensi hidup bereksistensi manusia dalam ruang dan waktu. Hukum sebab akibat juga ikut mempengaruhi di dalamnya. Penderitaan bukan bagian dari rencana Allah dalam proyek keselamatan-Nya. Allah tidak dapat bercampur dengan yang jahat. Allah tidak pernah merancang penderitaan yang dialami manusia karena Allah itu Maha Kasih. JikaIa ikut terlibat merancang penderitaan, maka akan bertentangan dengan sifat-Nya. Dan jika demikian, Ia bukan Allah. Allah ikut merasakan penderitaan itu karena sekali dalam sejarah umat manusia Allah pernah menjadi manusia.
Menarik untuk mencermati ucapan sahabat saya ini dari konteks penderitaan, bukan dari konsep Kristiani-nya mengenai Allah – tentu saja. Yang ingin saya sampaikan adalah, baik tradisi Kristiani maupun tradisi Islam, dalam memberikan solusi kekerasan terhadap perempuan, terkadang pada prakteknya terjebak pada masalah yang sama. Bahwa seperti kutipan Paul Coelho, tak seorang kesatria pun mematuhi perintah “Tuhan berarti pengorbanan” sebaliknya pengorbanan dan penderitaan dicamkan ke benak perempuan-perempuan tersebut untuk bertahan di bawah kekerasan yang mereka alami. Padahal, kita tahu bahwa Yesus melakukan pengorbanan bukan untuk menyatakan “Tuhan berarti pengorbanan,” demikian juga ketika Imam Husein merelakan kepalanya dipenggal dan hampir seluruh anak cucunya tewas dibantai – mereka menderita selama 10 hari tetapi bukan karena penderitaan mereka orang-orang Muslim berkabung dan menangis. Mereka (seharusnya) merayakan kemenangan dan pembebasan yang dilakukan oleh Imam Husein dan pasukan kecilnya – dan selanjutnya untuk menduplikasikannya, bukan untuk bersikap cengeng dan pengecut, berhenti menjadi seorang kesatria yang melawan kezaliman.Tentu saja, untuk menarik kesimpulan bahwa apabila telah terjadi kekerasan terhadap perempuan, maka perceraian adalah solusi satu-satunya, juga tidak demikian. Selama apa yang disebut “Siklus Bulan Madu” tidak pernah terjadi, dan atau ia dapat dihentikan sama sekali, maka masih dapat diupayakan hal-hal yang konstruktif bagi keduabelah pihak dalam ikatan perkawinan. Siklus Bulan Madu adalah suatu daur yang terjadi di mana setelah melakukan kekerasan para pria kemudian menyesalinya dan kemudian kembali mengungkapkan cinta mereka, kemudian terjadi rutinitas normal rumah tangga, dan kemudian kembali bersikap keras dan marah-marah, lalu melakukan kekerasan kembali dan begitu seterusnya kembali kepada bagian pertama.Sekarang saya akan kembali membahas mengenai poligami. Mengapa sistem poligami diserang secara mutlak, padahal sistem ini diakui atau tidak, diterima atau tidak, merupakan suatu sistem yang dibenarkan dalam tradisi Islam; dan bahwa Rasulullah memberikan dua contoh sukses bentuk perkawinan monogami maupun poligami dalam dua periode kehidupannya. Ini berarti bahwa meskipun tidak mungkin mencapai bentuknya yang ideal – dan bahkan ini berarti perkawinan monogami beliau dengan Bunda Khadijah – kedua bentuk perkawinan tersebut bagaimana pun adalah bagian dari tradisi Islam itu sendiri yang nyata, yang bahkan telah menjadi budaya masyarakat secara luas selama berabad-abad.Kalau kita menyerang ekses-ekses kekerasan, eksploitasi seksual dan kebobrokan lain yang lahir dari sebuah perkawinan, maka adalah keliru apabila kita menyerang institusi perkawinan. Para feminis ekstrim entah apapun alirannya bisa jadi mengharamkan perkawinan karena hanya akan memenjarakan kaum wanita dan menyebabkan mereka terus-menerus sebagai korban kekerasan. Maka, dengan begitu kita tidak akan pula menyerang institusi atau model poligami an sich sebagai poligaminya – bukan aplikasi atau prakteknya yang lazim kita temukan.Tradisi spiritual Islam, yang dikenal Sufisme, dikenal sangat menganjurkan keseimbangan dalam hidup, bukan penyangkalan diri sepenuhnya meskipun juga penyangkalan diri dalam bentuk-bentuk yang lain, keharmonisan, dan terutama sekali dalam menjalani kehidupan sangat ditekankan pentingnya “Sesuaikan dengan kapasitas atau kemampuan sendiri.” Oleh sebab itu, dalam sufisme, terdapat berbagai metode spiritual atau amalan-amalan dan ritual-ritual, tetapi setiap pelakunya harus melakukannya sesuai kapasitas atau kemampuannya sendiri, dengan petunjuk guru-gurunya. Begitu pula dalam hal pernikahan. Ada Sufi yang melakukan monogami, yang bahkan dalam bentuk-bentuk yang sangat ketat dalam kacamata kita sekarang, dan ada juga para Sufi yang melakukan poligami – bahkan para perempuan Sufi yang mempraktekkannya sebagai bentuk dari kemerdekaannya menentukan haknya, termasuk dengan mencari saudari untuk hidup bersama dengannya berbagi seorang suami. Tujuan para perempuan Sufi dan para Sufi ini adalah tujuan-tujuan spiritual yang tidak mungkin akan dipahami dan diterima oleh masyarakat umum, kecuali dalam konteks bolehnya poligami itu sendiri secara umum. Termasuk para Sufi yang memutuskan melakukan selibat, baik secara permanen, temporer, maupun setelah menjadi duda atau janda. Pilihan hidup untuk selibat ini pun lazimnya gagal dipahami oleh Muslim secara umum.Dengan begitu, untuk menggebyah uyah institusi poligami disebabkan 99 persen prakteknya terjadi penyimpangan, telah berarti menafikan 1 persen yang mempraktekkan demi tujuan yang luhur sesuai keyakinannya merupakan bentuk lain dari penyangkalan terhadap pluralisme, kebebasan beragama dan berkeyakinan itu sendiri.Yang terutama dan terpenting adalah melakukan pendidikan bagaimana agar ekses-ekses yang menimbulkan kekerasan dan eksploitasi seksual baik dalam bentuk perkawinan monogami dan poligami tidak terjadi. Pendidikan kepada anak lelaki untuk tidak melakukan kekerasan, dan kepada anak perempuan hal yang serupa, dan bagaimana harus merespon dan bereaksi atasnya jika terjadi kepada mereka atau orang-orang terdekat mereka atau yang mereka lihat – jangan sampai tidak peduli jika istri tetangga atau melihat perempuan di jalan mengalaminya. Kemudian yang sangat penting juga adalah melakukan modifikasi atau ijtihad-ijtihad penting untuk mengatur bagaimana agar bentuk perkawinan monogami maupun poligami tidak menyebabkan para perempuan menjadi korban kekerasan dan eksploitasi seksual, serta mengatur solusi-solusi, bentuk perlindungan, pendampingan dan pembelaan kepada mereka. Ini jauh lebih penting daripada melawan sebuah keyakinan masyarakat atau komunitas-komunitas keagamaan seperti Islam yang menganggap institusi poligami halal. Sebab, saya menyaksikan sendiri di dalam masyarakat Cina, yang menganut Buddhisme maupun Kong Hu Chu, poligami bukanlah hal yang sepenuhnya tabu dan haram. Coba anda menonton drama-drama kisah nyata DaAi TV dan ini membuktikan sebuah tradisi spiritual yang berkata lain tentang poligami.Bahkan, di sini saya belum sempat untuk membahas persoalan pernikahan temporer yang kerap menimbulkan kesalahpahaman dalam bentuk eksistensinya (bukan soal halal haramnya, itu bukan ranah saya) – bahwa menyerang institusinya di mana ada komunitas-komunitas yang mengakuinya sama saja dengan menyerang hak kebebasan beragama dan keyakinan itu sendiri. Padahal yang harus diserang dan dilawan adalah ekses-eksesnya, penyimpangan-penyimpangannya.Maka, sekarang kita sudah melihat bahwa pada potensinya, dan pada dasarnya, baik perkawinan secara monogami maupun poligami, juga perceraian, bukanlah sesuatu yang mutlak baik, maupun bukanlah sesuatu yang mutlak buruk. Dan, inilah dasar dari saya mengatakannya, sebab contoh-contohnya dalam masyarakat tidak pernah menunjukkan adanya 100 persen baik atau pun 100 persen buruk. Dengan begitu, yang perlu ditentang, dilawan atau diperbaiki adalah akibat-akibat, ekses-ekses dan dampaknya apabila terjadi penyimpangan. Saya lebih setuju jika mereka yang berjuang di ranah ini fokus untuk berjuang di medan pertempuran yang tepat, dengan sasaran yang tepat, dengan pedang yang telah diasah dengan baik, dan memilih musuh serta lawan yang tepat serta layak untuk dilawan.Sambil mengutip suhu Haihai Bengcu, dalam bahasa saya sendiri, bahwa pada dasarnya para perempuan diciptakan untuk menolong para lelaki untuk menjadi sukses; maka para perempuan juga akan meninggalkan para lelaki yang tidak ingin menjadi sukses – dan pembahasan ini tentu saja dalam konteks kekerasan. Lelaki yang melakukan kekerasan bukanlah lelaki yang sukses sama sekali, biarpun dia seorang raja, presiden, pejabat atau selebritis yang dipuja sejuta orang di seluruh dunia.
sumber: Tentang Kekerasan terhadap Perempuan 

Wednesday, December 11, 2013

POPE FRANCIS: PRIESTHOOD IS A CALL TO SERVICE AND WOMEN ARE CALLED

WOW: POPE FRANCIS -- PRIESTHOOD IS A CALL TO SERVICE AND WOMEN ARE CALLED
In his first Apostolic Exhortation, Evangelii Gaudium Pope Francis explicitly challenges global leaders to act against poverty and inequality. While Women’s Ordination Worldwide (WOW) applauds this message as a breath of fresh air, we are troubled by the document’s context on women and equation of priesthood with pursuit of power.
As Francis knows from personal experience, a call to priesthood is a call from God to a vocation of service. Like Mary who freely gave her yes to God to bear Christ for the world, women who are called to priesthood yearn to respond with a yes to sacramental ministry to the people of our Church.
Pope Francis points out that the Church should not be afraid to re-examine customs – even those with deep historical roots – when they no longer serve as a means of communicating the Gospel. A male only priesthood does not communicate Gospel. It jars against the message that there is neither male nor female in Christ. It jars against the proof of women's leadership in the early Church.
Fitting it is then that as we enter season of Advent we ponder: 2,000 years ago, the question was asked: ‘How can it be that God would choose a peasant girl -- Mary-- to bring the Christ child into the world?’And later on, 'how can it be that Jesus would choose a woman –Mary Magdalene -- to preach the Good News of resurrection to the Apostles?' Among today’s Vatican leadership, the same sort of question persists: ‘How can it be that God would choose women to sacramentally bring Christ to the world?’
As Mary knew, with God all things are possible. We pray for our Pope, we pray for our Church, we pray that the will of God be done. Be not afraid, Pope Francis. The Gospel calls.

Tuesday, December 10, 2013

Roman Catholic women priests ordained

Pentahbisan Pendeta Perempuan Katholik

Tentang "suka sama suka" dalam pandangan Ayu Utami

Tergelitik oleh tulisan Ayu Utami yang sedang menjadi perbincangan di dunia maya, terkait dengan kasus yang menimpa seorang Sastrawan Indonesia, Sitok Srengenge. "Mengapa kita tak pantas lagi bilang suka sama suka"
Bagi saya, tulisan tersebut membawa angin segar bagi kita semua dalam menerjemahkan suatu tindakan pelecehan seksual atau pemerkosaan. Yang selama ini kita sebut "suka sama suka" ternyata tidak selamanya kedua pihak--laki-laki dan perempuan--menyukainya. Tetapi kasus semacam itu harus dilihat lebih jauh lagi. 
di bawah ini saya cantumkan tulisan Ayu Utami. 
Selamat membaca.
MENGAPA KITA TAK PANTAS LAGI BILANG 'SUKA SAMA SUKA' 
oleh: Ayu Utami


Sungguh, pertanyaan mendasarnya adalah ini: apa yang salah dengan “suka sama suka”? Mengapa tak pantas lagi kita mengobral istilah itu, terutama untuk lari dari jejak sebuah hubungan seks?
Ketika seorang perempuan melaporkan kasus seksual, reaksi pertama kita biasanya bertanya: pemerkosaan atau suka sama suka? Tapi pengutuban ini mengandung masalah. Kita sering lupa. Begitu juga dalam kasus SS belakangan ini. Seorang perempuan mengadukan kasus seksual yang menyebabkan kehamilan, lalu media mengabarkan bahwa terlapor mau bertanggungjawab mengenai akibat dari hubungan yang dilakukan secara “suka sama suka”. Mungkin wartawan yang memakai istilah itu. Kita semua sering terjebak memakai istilah tersebut dalam memperlawankannya dengan pemerkosaan. (Lihat http://www.tempo.co/read/news/2013/11/30/064533555/Klarifikasi-Sitok-Soal-Tuduhan-Pemaksaan-Seksual)
Maka, marilah kita kita lihat apa problemnya. Selama ini kita cenderung menafsirkan hubungan seks hanya pada peristiwa seks saja: rayuan atau paksaan, rabaan, dan hubungan badan. Maka, betulkah jika seorang perempuan datang ke kamar lelaki―apalagi lebih dari sekali―berarti apa yang terjadi di dalam kamar disetujui kedua pihak?
Jika ditimbang baik-baik, cara pandang yang membenarkan itu amat wajar hanya bagi tubuh lelaki. Tubuh lelaki memang tidak membawa jejak persetubuhan. Ejakulasinya melepaskan jejak itu dari tubuhnya. Maka alamiah jika pria lebih mudah lupa pada―atau terlepas dari―hubungan seks yang ia lakukan. Tapi kita tidak boleh menjadikannya norma, justru karena kita adalah manusia.
Justru kita harus juga melihatnya dari perspektif perempuan. Tubuh perempuan membawa jejak persetubuhan lebih lama. Bahkan bisa selama-lamanya. Ia bisa menerima benih dan menjadi hamil. Maka alamiah juga jika perempuan lebih tidak cepat lupa. Ia lebih sulit terlepas dari jejak hubungan seks, secara fisik maupun psikologis. Pengalaman inilah yang perlu betul-betul kita pertimbangkan.
Jadi, dengan menimbang pengalaman perempuan yang dimensinya sering lebih luas dari pengalaman lelaki, kita tidak bisa lagi memakai kacamata sempit, melihat hubungan seks hanya pada peristiwa. Hubungan seks harus dimaknai lebih panjang. Di dalamnya termasuk bagaimana kedua pihak menyelesaikan jejak emosional dan psikologis peristiwa dengan cara yang beradab dan manusiawi.
Jika salah satu pihak melaporkan pada polisi hubungan seks yang jadi terasa tidak adil, ia harus didengar. Kasusnya harus ditangani. Bahkan jika kehamilan sudah memasuki tujuh bulan atau lebih. Anda khawatir bahwa ini membuka celah untuk pencemaran nama baik? Justru ini  tempatnya bagi kita untuk belajar tidak berlindung di balik nama baik. Nama baik tidak lebih penting daripada keadilan.
Ada banyak hal teknis yang menjadi PR ke depan. Misalnya, apa yang dianggap penyelesaian yang adil? Di sini kita akan tahu bahwa mengawini korban bukanlah penyelesaian  (karena hubungan toh telah masam; apalagi dalam kasus pemerkosaan); sehingga kita harus mencari bentuk-bentuk lain terbaik. Salah satu yang terpenting: akte kelahiran tidak boleh mendiskriminasikan anak yang lahir di luar nikah.
Kembali pada kasus SS. Kita belum tahu apakah pemaksaan dalam makna tradisional memang terjadi. Tapi, dugaan bahwa ada hubungan seks yang tidak adil, tidak ditunaikan dengan cara-cara apik dan manusiawi―dan karenanya menjadi tidak menyenangkan bahkan terasa cabul―sah sebagai kasus hukum. Kita tidak bisa lagi berlindung di balik “suka sama suka”. Itu pandangan yang terlalu sempit.
Ejakulasi dini bukan hanya ejakulasi fisik yang dini, tapi juga lelaki yang pergi sebelum hubungan emosional dan psikologis diselesaikan dengan pantas.

Monday, December 9, 2013

10 American Muslim Women You Should Know

by: Samina Ali 
Curator, Muslima: Muslim Women's Arts & Voices

As we enter the last few weeks of the Muslima: Muslim Women's Art & Voices exhibition by the International Museum of Women, I have found myself reflecting on the hundreds of women included in this groundbreaking exhibition.
Each and every one of these women is included because she is noteworthy -- a cutting-edge artist or writer, a revolutionary who is upending her community's and the world's limited notions of what a Muslim woman is capable of doing, a pioneer fighting for women's and girls' rights.
As a way of recognizing the many contributions these women are making, I wanted to highlight a handful of these women in a two-part series -- this first blog devoted to North American Muslim women, and a second upcoming blog celebrating Muslim women from other parts of the world.
In this snapshot of our exhibition of North American Muslim women, you'll find a diverse group of women who've been able to move beyond the belittling stereotypes about Muslim women and are, instead, using their personal relationship to their faith in a positive way to actually shift the national conversation about Islam. In the process, they are transforming the world in fresh and exhilarating ways.

2013-12-09-imgres.jpg
1. The daughter of influential Muslim American leader Malcolm X, Ilyasah Shabazz is an activist, motivational speaker, and author of the critically acclaimed autobiography Growing Up X. She produces The WAKE-UP Tour™, her exclusive youth empowerment program to mentor students throughout the country, and she participates in international humanitarian delegations. Her goal is to "empower future generations through understanding the world's diverse cultures and historic civilizations."

2013-12-09-imgres1.jpg
2. Farah Pandith was appointed Special Representative to Muslim Communities in June 2009. Her office is responsible for executing the Secretary of State's vision for engagement with Muslims around the world on a people-to-people and organizational level. She reports directly to the Secretary of State. Pandith says she wants "to see young women who happen to be Muslim ... push back against stereotypes, to tell their stories in their real voices, to create alternative narratives in every way possible -- because when you flood the marketplace with alternatives, the conversation will begin to change."

2013-12-09-images.jpg
3. Laleh Bakhtiar is the first American woman to translate the Quran into English and the first woman to present a critical translation of the Quran in any language. She says, "The veil is the wrong thing to be stuck on when discussing Muslim women's rights in Islam. In fact, in many cases, the Quran reinforces a Muslim woman's self-esteem. And Muslim women worldwide are using the Quran to reassert their rights -- rights that have been taken away from them through patriarchal interpretations and laws."

2013-12-09-imgres2.jpg
4. Dalia Mogahedhas spent years extensively researching the real lives of Muslims around the world in her former job as Executive Director of the Gallup Center for Muslim Studies, a think tank and consultancy that offers evidence-based advice on Muslim societies around the world. President Barack Obama appointed Mogahed to the President's Advisory Council on Faith-Based and Neighborhood Partnerships. She says, "Muslim Americans helped thwart the majority of foiled al-Qaeda inspired terrorist plots in America. Rather than bearing collective guilt for Al-Qaeda inspired terrorism, the Muslim American community is its most formidable adversary."

2013-12-09-imgres3.jpg
5. Azadeh Moaveni is the author of Lipstick Jihad and co-author with Nobel Peace Prize winner Shirin Ebadi of Iran Awakening. As one of the few American correspondents allowed to work continuously in Iran since 1999, she has reported widely on youth culture, women's rights, and Islamic reform for Time, The New York Times Book Review, the Washington Post, and the Los Angeles Times. She says, "I spent the first half of my career totally engaged with this question, how to get the West to understand us better, how to convey our reality, how to prove that we were not all chained to the stove frying onions ... Now... I'm much more interested in having a dialogue with and trying to bring about some change within my own community, within the Iranian diaspora and Iranians inside Iran."

2013-12-09-imgres4.jpg
6. In 1982, a group of women decided to start a women-run organization for Muslim women in Canada. These women established the Canadian Council of Muslim Women (CCMW) with the shared belief that Islam advocates the equality, equity and empowerment of women. Executive Director of the CCMW, Alia Hogben's message to "Muslims and non-Muslims is that all of us must take responsibility for the welfare of all, regardless of belief, race, or color. Without that dream we would not be passionate or committed to creating change."

2013-12-09-imgres5.jpg
7. Maryam Eskandari is the founder and CEO of MIIM Designs, a studio comprising architects, researchers and designers, all trained in Islamic theological studies and Islamic art and architecture, which merges the theory of research with the execution of art and architecture. Eskandari says, "The architecturally designed spaces and socially negotiated places for and of Muslim women in community mosques in the United States emerge as a particularly understudied problem ... Oftentimes these retrofit buildings raise specific questions on the American Muslim identity struggling with the interwoven issues of religion and culture that are brought over from Muslim countries, such as, where do the men stand? How much space is allocated for women, and what about children?"

2013-12-09-imgres6.jpg
8. Maria Ebrahimji is the co-editor of the anthology I Speak for Myself: American Women on Being Muslim, a collection of essays written by 40 American-born Muslim women under 40. Since then, she co-founded I Speak for Myself, Inc., a book and multimedia enterprise that focuses on publishing self-narrative collections on interfaith and intercultural issues. If that's not enough, for her daytime job, Ebrahimji most recently was the Director and Executive Editorial Producer for Network Booking at CNN Worldwide. One thing she knows for sure, she says, is that "while we cannot speak for others, we can certainly speak for ourselves and share our own stories of faith. The more stories people bear witness to, the deeper their knowledge of the 'unknown.'"

2013-12-09-imgres7.jpg
9. A filmmaker specializing in web TV, Hala Alsalman has worked as a photo journalist in the Middle East for Time.com, Reuters, and Current TV. She produced (wrote, directed, shot, and edited) several documentary web series for the CBC and Food Network's zany hit show ''Bitchin' Kitchen.'' On the TV front, she directed episodes for Investigation Discovery channel's ''Outrageous Final Wishes'' and ''The Will.'' Set in the Montreal city subway, her comedy short, The Green Line, will leave you laughing out loud as Alsalman pits Western garb against the niqab, asking which style of dress is more ethical, and answers this hotly contested debate with an unexpected twist.

2013-12-09-imgres8.jpg
10. Founder and Editor-in-Chief of Azizah Magazine, Tayyibah Taylor has realized her vision to provide a vehicle for the voice of Muslim American women -- a vehicle that portrays their perspectives and experiences and shatters commonly held stereotypes. Named as one of the 500 Most Influential Muslims in the World by the Middle Eastern think tank, The Royal Islamic Strategic Studies, Taylor says, "Don't put limitations on yourselves. If you have a dream, an ambition, a goal, an aspiration, keep your intention and vision clear and work towards that goal. Understand ... that your work and your worship can blend. If you are working with the intention of accomplishing something that reaches beyond yourself and into the world then the work becomes this wonderful form of worship. We have a very talented group of young Muslim women coming up, and I'm really excited to see what they are going to be as they become the new architects of the Muslim American community."
I couldn't have said it better myself. I, too, am excited about the future generation of American Muslim women and their contributions to the American community.
In the meantime, get to know these 10 North American Muslim trailblazers and the many others presented in the Muslima exhibition. Add your voice by tweeting to us at @IMOWomen to let us know who you would include in this list of American Muslim women to watch or leave a note in the comments below. Keep a look out for the next blog on the 10 Muslim women you should know from around the world!

source: 10 American Muslim Women You Should Know

Wednesday, November 27, 2013

Roman Catholic women Priests: Jeannette Love,Preparation of the Gifts

Newly ordained priest, Jeannette Love is offering the gifts of bread and wine during the mass with Bishop Olivia Doko.

Wednesday, November 20, 2013

Women priests defy stereotypes at Mangalore temple

At Sri Gokarnatha temple in Mangalore, tradition is being updated in a welcome way. Usually, priests you see at a Hindu temple are all men. And widows are unable to take part in many ceremonies. But turning all that on its head, this temple has taken the step towards equality by training two women, whose husbands have died, to become priests.